Dinamika Islam di Dunia

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Terdapat sejumlah alasan yang mendasari perlunya mempelajari perkembangan kajian Islam di Barat, Timur dan Indonesia, sebagaimana berikut:

Pertama, Islam yag dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai agama samawi terakhir lahir di Timur Tengah, tepatnya di Mekkah dan Madinah, yang selanjutnya menyebar tidak hanya dikawasan Timur Tengah melainkan juga ke  berbagai kawasan di dunia, termasuk Asia, Afrika, Eropa, dan Barat. Kedua, di kalangan pemikir Islam di Indonesia terdapat pro kontra tentang belajar Islam Barat. Ketiga, Islam di Barat saat ini, bukan hanya dijadikan bahan kajian akademik dan penelitian oleh para calon magister dan doctor pada berbagai perguruan tinggi terkemuka, seperti Harvard, UCL (Universitas California), Ohio dan Columbia di Amerika, atau beberapa universitas lainnya di Kanada, Australia dan Belanda, melainkan Islam juga telah menjadi ajaran yang dihayati, dipahami, dan diamalkan oleh berbagai lapisan masyarakat.[1]

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana dinamika studi Islam di Barat?
  3. Bagaimana dinamika studi Islam di Timur?
  4. Bagaimana dinamika studi Islam di Indonesia?
  1. Tujuan Penulisan
  2. Untuk mengetahui dinamika studi Islam di Barat.
  3. Untuk mengetahui dinamika studi Islam di Timur.
  4. Untuk mengetahui dinamika studi Islam di Indonesia.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Dinamika Studi Islam di Barat
  2. Pusat Kajian Keagamaan di Barat

Berikut uraian singkat mengenai bebrapa pusat kajian keagamaan yang telah diupayakan oleh berbagai kalangan sarjana Barat yang concern pada kajian keislaman:[2]

  1. Pusat kajian keislaman di Kanada (The Development of Islamic Studies in Canada)

Pusat kajian keislaman di Kanada dimulai dari McGill University dengan tokoh utamanya Wilfred Cantwell Smith. Gagasan utama dibukanya pusat kajian Islam di sini mengingat banyaknya konflik yang ditimbulkan oleh isu agama. Hal ini menggugah Smith untuk membuka pusat kajian ini agar para sarjana Barat tahu secara benar tentang Islam dan sekaligus untuk mengurangi adanya kesalahpahaman di antara mereka.

Kemudian, pusat kajian ini berkembang menjadi sebuah departemen yang menjadi bagian dari McGill University. Bahkan, untuk lebih memperbanyak hasil-hasil penelitian tentang Islam ini, departemen ini mengundang para peneliti, profesor, atau guru-guru besar dari berbagai universitas.

  1. Pusat kajian keislaman di Temple University

Kajian Islam menjadi sebuah kebutuhan di lembaga-lembaga perguruan tinggi di Amerika Serikat. Tampaknya, Prof.Mahmoud Ayyoub adalah tokoh utama penggagas yang cukup intens untuk mewujudkan pusat kajian Islam di Temple University.

Melalui pusat kajian Islam ini, Prof. Mahmoud Ayyoub berusaha mempromosikan beasiswa bagi para calon mahasiswa yang akan memasuki program kajian Islam di Temple University.

  1. Pusat kajian keislaman di Chicago Uiversity

Prof. Fazlur Rahman, guru besar asal Pakistan, sangat dikenal di universitas ini karena kefasihannya dalam menjelaskan tentang Islam. Telah banyak mahasiswa Indonesia yang telah mengenyam studi Islam di universitas ini. Di antaranya adalah Nurcholis Majid (Pendiri Universitas Paramadina Mulya), Ahmad Syafi’i Ma’arif (mantan Ketua Umum Muhammadiyah pasca Amin Rais), dan Mulyadi Kertanegara (dosen Pascasarjana UIN Jakarta).

 

  1. Bidang Kajian Studi Islam di Barat

Sebagaimana diketahui, bahwa yang sementara ini dikelompokkan sebagai studi Islam antara lain:Al-Qur’an/ tafsir, hadits/ilmu hadits, fiqh/hukum Islam, teologi/ilmu kalam, tasawuf, sejarah Islam, filsafat Islam, dan bahasa Arab. Belakangan masuk pula ke dalam studi Islam adalah pembaruan pemikiran Islam, dakwah Islam, pendidikan Islam, Politik Islam, dan Ekonomi Islam. Semua bidang studi Islam ini telah dipelajari oleh para orientalis Barat dengan intensitas yang berbeda-beda. Penjelasan secara singkat tentang studi Islam yang dipelajari oleh orientalis Barat ini dapat dikemukakan sebagi berikut:

Pertama,  bidang tasawuf.  Para orientalis yang mempelajari tasawuf ini antara lain: A.J.Arbery dan S.M. Zwemmer. Kajian mereka tetang tasawuf ini pada umumnya ditujukan untuk menempatkan tasawuf Islam sebagai kelas dua, atau hasil menjiplak dari tasawuf yang dikembangkan dikalangan nasrani.

Kedua, bidang dakwah. Di antara orientalis yang mempelajari dakwah ini ialah Thomas W. Arnold, dalam bukunya yang berjudul The Preaching of Islam. Dalam buku ini, sering digambarkan bahwa Islam disebarkan dengan pedang dan cara-cara pemaksaan.

Ketiga, bidang pendidikan Islam. Di antara orientalis yang mempelajari pendidikan Islam ini, ialah Michael Stanton dengan bukunya yang berjudul The Higher Learning of Islam (Pendidikan Tinggi Islam), dan Karl Stremmbrink dengan  buku pesantren, madrasah, dan sekolah. Dalam buku-buku ini merekan membicarakan tentang sejarah pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan Islam mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, mulai dari yang sederhana hingga yang tinggi, seperti kuttab, masjid, madrasah, dan observatorium.[3]

 

  1. Tujuan Barat Mempelajari Islam

Terdapat sejumlah tujuan yang ingin dicapai oleh orang Barat yang mempelajari Islam, sebagai berikut:

Pertama, untuk menarik simpati kalangan umat Islam. Dengan mempelajari Islam, diharapkan masyarakat Islam tidak lagi menaruh benci, curiga atau ragu-ragu menerima kehadiran orang Barat.

Kedua, untuk melemahkan Islam dari dalam, misalnya dengan cara mengambil kesimpulan yang keliru tentang Al-Qur’an, Al-Sunnah, dan fiqih.

Ketiga, untuk menunjukkan superioritas mereka sebagai orang Barat. Ilmuwan Barat, khususnya dalam orientalis, senantiasa merasa bahwa “Barat” adalah “guru” dalam segala hal, khususnya dalam logika dan pearadaban.

Keempat, untuk memperjuangkan doktrin-doktrin mereka yang tidak boleh dikritik. Diantaranya ialah dua  doktrin inti, yaitu bahwa Al-Qur’an dalam pandangan insan Barat bukan kalam Allah, dan Muhammad bukan Rasul Allah.

Kelima, untuk kepentingan negara-negara tertentu  yang menandai kajian tersebut.[4]

 

  1. Dinamika Studi Islam di Timur

Sejarah perkembangan Islam di Timur dimulai sejak akhir periode Madinah sampai dengan 4 H, fase pertama pendidikan Islam masih di masjid-masjid dan rumah-rumah, dengan ciri hafalan. Namun sudah diperkenalkan logika matematika, ilmu alam, kedokteran, kimia, musik, sejarah dan geografi. Selama abad ke-5 H, selama periode Khalifah Abbasyiah, sekolah-sekolah didirikan di kota-kota dan mulai menempati gedung-gedung besar, bukan lagi masjid, dan mulai yang bersifat intelektual, ilmu alam dan ilmu sosial.

Berdirinya sistem madrasah di abad 5 H/akhir abad 11 M, justru menjadi titik balik kejayaan. Sebab madrasah dibiayai dan diprakarsai negara. Kemudian madrasah menjadi alat penguasa untuk mempertahankan doktrin-doktrin terutama oleh Kerajaan Fatimah di Kairo. Sebelumnya di sekolah ini diajarkan kimia, kedokteran, filsafat, diganti hanya mempelajari tafsir, kalam fiqih dan bahasa. Sedangkan matematika hilang dari kurikulum Al-Azhar tahun 1748 M. Memang pada masa kekhalifahan Abbasyiah Al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M), sebelum hancurnya aliran Mu’tazilah, ilmu-ilmu umum yang bertitik tolak dari nalar dan kajian-kajian empiris dipelajari di madrasah.

Pengaruh Al-Ghazali (1085-1111 M) disebut sebagai awal pemisahan ilmu agama dengan ilmu umum. Ada beberapa kota yang menjadi pusat kajian islam di zamannya, yaitu Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus dan Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi tertua di dunia muslim, yaitu (1) Nizhamiyah di Baghdad (2) Al-Azhar di Kairo Mesir (3) Cordova (bagian barat) dan (4) Maroko. Sejarah singkat masing-masing pusat studi Islam di gambarkan sebagai berikut:

 

  1. Nizhamiyah di Baghdad

Salah satu jenis lembaga pendidikan tinggi yang muncul pada akhir abad IV Hijriyah adalah Madrasah. Sedangkan Nizhamiyah adalah sebuah lembaga pendidikan yang didirikan tahun 457-459 H/ 1065-1067 M (abad IV) oleh Nizham al-Muluk dari dinasti Saljuk. Madrasah Nizhamiyah adalah madrasah yang pertama kali muncul dalam sejarah pendidikan Islam yang berbentuk lembaga pendidikan dasar sampai perguruan tinggi yang dikelola oleh pemerintah. Perguruan tinggi ini dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di baghdad, yakni Bait Al-Hikmah yang dibangun oleh Khalifah Al-Makmun (813-833 M), salah seorang ulama besar yang pernah  mengajar di sana, adalah ahli pikir islam terbesar, Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111 M), yang kemudian terkenal dengan sebutan Imam Ghazali.[5]

Di lembaga ini ada empat unsur pokok, yakni (1) seorang mudarris (guru besar) yang bertanggung jawab terhadap pengajaran di lembaga pendidikan, muqri’ (ahli Al-Qur’an) yang mengajar Al-Qur’an di masjid, muhaddis (ahli hadis) yang mengajar hadis lembaga pendidikan, dan seorang pustakawan (Bait Al-Maktub) yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan, mengajar bahasa dan hal-hal yang terkait.

Tujuan Nizham al-Mulk mendirikan madrasah-madrasah itu adalah untuk memeperkuat pemerintahan Turki Saljuk dan untuk menyiarkan mazhab keagamaan pemerintahan. Karena sultan-sultan Turki adalah dari golongan ahli sunah, sedangkan pemerintahan Buwaihiyah yang sebelumnya adalah kaum syi’ah, oleh sebab itu Madrasah Nizhamiyah adalah untuk menyokong sultan dan menyiarkan mazhab ahli sunah ke seluruh rakyat.[6]

  1. Al-Azhar di Kairo Mesir

Al-Azhar merupakan lembaga pendidikan tertua di dunia. Hingga saat ini usia al-Azhar telah mencapai lebih dari seribu tahun. Awalnya al-Azhar adalah sebuah masjid yang didirikan oleh khalifah Mu’idz li Dinillah Ma’ad bin Mansyur (931-975 M), khalifah keempat dinasti Fatimah yang berkuasa di Mesir kala itu. Kemudian fungsi al-Azhar ditambah menjadi pusat kebudayaan dan pendidikan. Mulanya lembaga pendidikan al-Azhar adalah pusat penyebaran paham syiah. Namun sejak Salahuddin al-Ayyubi berkuasa di Mesir pada tahun 1711 M, kurikulum  lembaga pendidikan al-Azhar pun diubah dari paham syiah menjadi mazhab sunni yang terus berlaku sampai sekarang.

Universitas al-Azhar dapat dibedakan menjadi dua periode : pertama, periode sebelum tahun 1961 dan kedua, periode setelah 1961, dimana fakultas-fakultas dan ilmu-ilmu yang dikaji telah meliputi seluruh cabang ilmu pengetahuan umum dan agama. Kalau periode pertama kita sebut periode Qadim (lama), dan kedua sebagai periode Jadid (baru).

Pada tahun 1961, universitas al-Azhar membuka sejumlah fakultas baru seperti pendidikan, kedokteran, farmasi, ekonomi, sains, pertanian, dan teknik. Dangan ini, maka di Universitas al-Azhar terdapat dua penjurusan yaitu fakultas ilmu (ilmu umum) dan fakultas adabi (agama). Hanya saja yang membedakan alumni Universitas al-Azhar, baik fakultas agama maupaun non-agama, dengan alumni Universitas-universitas lain di Mesir adalah kewajiban setiap mahasiswa/mahasiswinya untuk menghafal seluruh al-Quran bagi mahasiswa Mesir dan Arab, dan menghafal sebagiannya bagi mahasiswa non-Arab.[7]

  1. Universitas Cordova di Cordova (bagian barat)

Cordova memasuki puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Abdurrahman III (912-961) dan al-Hakam II (961-976). Kemajuan tersebut dapat di lihat dalam berbagai bidang, antara lain bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan intelektual. Pada saat itu, Islam di Cordova telah memiliki Universitas Cordova yang tersohor dan menjadi kebanggaan umat Islam, salah satu Universitas dunia yang terpercaya. Universitas ini menandingi dua Universitas lainnya, yaitu al-Azhar di Kairo dan Nizhamiyah di Bagdad, dan berhasil menarik para mahasiswa dari dekat dan jauh, termasuk banyak mahasiswa Kristen dari negara-negara Eropa lainnya. Al-Hakam menyelenggarakan pengajaran dan telah memberikan banyak seakali penghargaan kepada para sarjana, beliau juga mendirikan 27 sekolah swasta, disamping itu terdapat pula 70 perpustakaan dan memiliki koleksi ratusan ribu buku.

  1. Universitas Qurawiyin di Maroko

Pada awalnya nama al-Qurawiyin adalah nama masjid tertua di Maroko, bahkan termasuk salah satu masjid tertua di dunia. Ia terletak di daerah pegunungan Atlas, persisnya di wilayah pemukiman lama kota Fes. Nama al-Qurawiyin juga dijadikan sebagai nama Universitas Islam tertua di dunia yang didirikan pada tahun 245 H/857 M, atau pertengahan abad kesembilan Masehi oleh Fatimah Fihriyah, seorang wanita dari kota Qirauan, negara Tunisia. Dari nama kota itulah nama Universitas Qurawiyin diambil.

Gedung kampuz al-Qurawiyin yang pertama kali di bangun, dengan bangunan yang dindingnya terbuat dari kayu berukir kaligrafi Arab ciri khas dan budaya Maroko itu, kini telah di museumkan di kota Fes.

Universitas al-Qurawiyin sebagai Universitas negeri, dengan mahasiswa dari berbagai negara, kini mempunyai empat kampus. Kampus utamanya berada di kota Fes, kota ulama dan kota pelajar Maroko, kampus kedua terletak di kota Tetouan, dekat perbatasan Maroko-Spanyol, kampus ketiga terletak di kota Aqadir, wilayah Maroko yang di dalamnya banyak lahan pertanian dan peternakan. Kampus keempat berada di kota Marakes, kota wisata Maroko.

Itulah sejarah singkat mengenai  perguruan tinggi tertua yang ada di dunia muslim. Dari berbagai perguruan tinggi yang telah muncul di dunia timur tersebut itu membuktikan bahwasannya dunia islam pernah menguasai dunia ilmu pengetahuan khususnya di dunia timur.dan ini juga membuktikan bahwa ajaran agama islam merupakan ajaran yang sempurna baik dari segi ilmu ketuhanan maupun ilmu yang berkaitan dengan dunia

 

  1. Dinamika Studi Islam di Indonesia
  2. Kondisi Pendidikan Pada Kerajaan Islam
  3. Pendidikan islam pada kerajaan Samudra Pasai dan Aceh Darussalam

Menurut Muhmmad Zunus, bahwa pada setiap kerajaan islam terdapat masa-masa kemajuan pendidikan islam. Sejak masuknya islam ke tanah aceh (1290 M), pendidikan dan pengajaran islam mulai lahir dan tumbuh dengan subur, terutama setelah berdirinya kerajaan islam di aceh. Pada waktu itu banyaklah ulama di pasai yang membangun pesantren, seperti Teungku di Deurenundong, teungku Cot Mamplam, dan lain-lain. Seiring dengan itu, banyak pula pelajar dari berbagai daerah yang datang ke Pasai untuk belajar agama islam. Berkat bantuan pemerintah islam dan masyarakat, maka pesantren, surau dan langgar tersebar di dari kota-kota sampai ke dusun-dusun. Kegiatan pendidikan islam di Aceh ini mengalami zaman keemasan pada zaman Iskandar Muda (1608-1637), sehingga menjadi masyhur ke mana-mana, karena banyak alim ulama dan ahli sastra Islam Indonesia.

Ibn Batutah (seorang pengembara terkenal asal Maroko) menyatakan bahwa kerajaan Samudra Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama islam dan tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi masalah keagamaan dan keduniaan.[8]

  1. Pendidikan Islam Pada Kerajaan Demak, Panjang, dan Mataram

Pendidikan islam yang berlangsung di kerajan Demak, panjang, dan Mataram beriringan dengan kegiatan dakwah islam yang di lakukan para ulama dan para wali, yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Kalijaga, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. Kitab-kitab agama Islam di zaman Demak yang kini masih di kenal, ialah Primbon, yaitu notes, berisi serba macam catatan tentang ilmu-ilmu agama, macam-macam do’a, bahkan ada juga tentang obat-obatan, dan ilmu ghaib. Dalam kitab ini di sebutkan pula tentang ini atau itu adalah wejangan dari sunan polan, atau sunan anu, atau dari Kiai Ageng anu. Selain itu, ada pula kitab-kitab yang di kenal dengan nama suluk sunan bonang, suluk sunan kalijaga, wasita jati sunan geseng dan ajaran mistis Islam dari masing-masing sunan itu yang di tulis tangan[9].

  1. Pendidikan Islam di Maluku

Menurut sebuah sumber, bahwa pada 11 juli 1951 M, jumlah madrasah tingkat ibtidaiyah yang berada di maluku Utara sebanyak 44 buah. Adapun guru-guru berjumlah 58 orang, dan murid-muridnya sebanyak 4.600 orang, di antaranya 3.000 orang laki-laki, dan 1.600 orang perempuan. Madrasah menengah hanya ada 1 buah, yaitu di Tidore dengan jumlah murid sebanyak  49 orang. Selanjutnya di laporkan pula, bahwa jumlah madrasah di seluruh Maluku (Maluku utara, Maluku Tengah, dan Maluku Selatan) sebanyak 56 buah, tetapi dalam laporan yang lain jumlahnya sebanyak 84 buah. Pada tahun 1951 di Ambon terdapat 4 buah madrasah,  termasuk 1 buah madrasah Tsanawiyah. Tetapi pada tahun 1951 hanya tinggal 2 Madrasah Ibtidaiyah.

  1. Pendidikan Islam di Kalimantan

Madrasah yang tertua dikalimantan Barat adalah Madrasatun Najah wa al-Falah yang terletak di Sei Bukau Besar Mempawah yang didirikan pada tahun 1918. Di antara madrasah yang termashur adalah madrasah perguruan islam (Assulthaniah) di Sambas pada tahun 1922.

 

  1. Keadaan Pendidikan Islam di Zaman Belanda

Sikap kolonial Belanda terhadap pendidikan Islam bisa dilihat lebih lanjut dari kebijakannya yang sangat distriminatif, baik secara sosial, ras, anggaran, maupun kepemelukan terhadap agama.

Diskriminasi sosial terlihat pada didirikannya sekolah yang membedakan antara sekolah yang diperuntukan khusus kaum bangsawan dengan sekolah yang khusus untuk rakyat biasa.

Diskriminan ras terlihat dengan jelas pada klasifikasi sekolah di Indonesia. Pada tingkat dasar pemerintah membuka sekolah-sekolah yang dibedakan menurut ras dan keturunan seperti Europeeche Lagere School (ELS) untuk anak-anak Eropa, Holandsch Chinese School untuk anak-anak China dan keturunan Asia Timur, Holandsch Schoolyang kemudian disebut Selah Bumiputra, untuk anak-anak pribumi dari kalangan ningrat, dan terakhir Inlandsch Scool yang disediakan untuk anak-anak pribumi pada umumnya.

Diskriminasi anggaran terlihat pada pemberian anggaran yang lebih besar kepada sekolah untuk anak-anak eropa, padahal jumlah siswa pada sekolah Bumiputra jauh lebih banyak. Diskriminasi kepemelukan agama antara lain terlihat pada kebijakan pemerintah Belanda yang mengonsentrasikan di wilayah dimana terdapat sejumlah besar penduduknya  yang beragama kristen sepeti Batak, Manado, dan Kalimantan. Pesantren yang menjadi basis pendidikan tidak mendapatkan perhatian sama sekali, bahkan cenderung dimusuhi.

Dengan bedasarkan pada dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits yang berisi perintah memerangi orang kafir, dan tidak boleh mengambil pimpinan dari orang kafir, ditambah lagi dengan sikap Belanda yang menyengsarakan rakyat indonesia, membuat kaum pesantren menaruh sikap curiga dan memusuhi Belanda. Mereka menolak bentuk bantuan apapun dari pemerintah Belanda, dan melarang melakukan berbagai hal yang berbau Belanda. Kelompok inilah yang pada giliranya bersedia memenggul senjata untuk jihad di jalan Allah, yakni berperan di medan laga untuk mengusir kaum penjajah dan membebaskan rakyat Indonesia dari para penjajah. Terdapat 3 sikap yang di tempuh umat islam dalam merespon kebijakan pendidikan Belanda. Pertama, kelompok yang mengisolasi  diri atau non-kooperatif dengan kebijakan Belanda. Sikap non-kooperatif adalah sikap yang menjadikan Belanda sebagai musuh yang harus di benci dan di jauhi. Mereka berpendapat bahwa kerja sama dengan Belanda tidak di benarkan, baik secara aqidah maupun kemanisiaan. Sikap non-kooperatif ini banyak di lakukan oleh para ulama salaf yang memimpin pesantren pada umumnya tersebar di pedesaan. Kedua, kelompok yang bersikap akomodatif secara selektif dan proposional. Ketiga, kelompok yang sepenuhnya mengambil model pendidikan Belanda. Tetapi dalam perjalanan selanjutnya, kaum modernis pun memutuskan hubungan untuk tidak lagi mau kerja sama dengan Belanda, karena Belanda kian semena-mena dalam memperlakukan bangsa Indonesia[10].

 

  1. Keadaan Pendidikan Islam di Zaman Jepang

Kehadiran Jepang di Indonesia terhitung amat singkat, yakni hanya 3,5 tahun. Namun waktu yang singkat ini tidak berarti bahwa Jepang tidak memberi pengaruh terhadap perkembangan pendidikan islam. Lamanya waktu, sebagaimana yang di lakukan oleh Belanda di Indonesia, tidak menjadi jaminan bangsa Belanda di Indonesia telah berbuat banyak terhadap pendidikan islam. Sebaliknya Jepang yang berada di Indonesia dalam waktu singkat telah memberikan pengaruh pendidikan islam sebagai berikut.

Pertama, umat islam merasa lebih leluasa dalam mengembangkan pendidikannya, karena berbagai undang-undang dan peraturan yang di buat oleh pemerintah Belanda yang sangat diskriminatif dan membatasi itu sudah tidak di perlakukan lagi. Umat islam pada zaman kolonial Jepang memperoleh peluang yang memungkinkan dapat berkiprah lebih leluasa dalam bidang pendidikan.

Kedua, bahwa sistem pendidikan islam yang terdapat pada zaman Jepang pada dasarnya masih sama dengan sistem pendidikan islam pada zaman Belanda, yakni di samping sistem pendidikan pesantren yang didirikan kaum ulama tradisional, juga terdapat sistem pendidikan klasikal sebagaimana yang terlihat pada madrasah, yaitu sistem pendidikan Belanda yang muatanya terdapat pelajaran agama.[11]

 

  1. Pendidikan Islam di Zaman Orde Lama

Pada masa ini pendidikan Islam kurang diperhatikan karena adanya perang dingin antara pemerintah dengan elite Islam, sehingga pendidikan Islam belum mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari pemerintah.

Namun, meskipun kurang diperhatikan pada zaman ini terdapat beberapa usaha yang dilakukan pemerintah dalam kepentingan pendidikan Islam, antara lain:

Pertama, didirikannya Departemen Agama, pembinaan pendidikan agama setelah kemerdekaan Indonesia dilakukan secara formal. Departemen agama diresmikan pada tanggal 3 Januari 1946. Departemen agama juga mengurusi bidang pendidikan yang berhubungan dengan agama. Namun disamping itu pemerintah juga mendirikan departemen pendidikan dan kebudayaan, yang menimbulkan pengelolaan pendidikan yang dikotomis, yang selanjutnya berdampak adanya diskriminasi kepada departemen agama.

Kedua, dikeluarkannya sejumlah kebijakan berupa peraturan perundang-undangan yang ada hubungannya dengan pendidikan agama. Diantara kebijakan itu antara lain Undang-Undang Nomor 12 tahun 1950, Peraturan Bersama Menteri PP&K (Nomor K/652) Dengan Menteri Agama (Nomor 1432), dan  keputusan sidang MPRS pada bulan desember 1960.

Ketiga, diberikannya perhatian terhadap pertumbuhan perkembangan lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah dan pesantren. Perhatian ini diwujudkan dengan diberikannya bantuan material dari pemerintah kepada madrasah dan pesantren yang diserahkan kepada Kementerian Agama sebagai pembina dan pengembangnya.

Keempat, memberikan bantuan fasilitas dan sumbangan material kepada lembaga-lembaga pendidikan Islam, seperti mengangkat guru agama, membantu pembangunan madrasah, bantuan buku-buku pelajaran, me-negeri-kan madrasah, dan bantuan lainnya[12].

 

  1. Pendidikan Islam di Zaman Orde Baru

Pada dasarnya kebijakan yang lair pada zaman orde baru, termasuk pada bidang pendidikan, diarahkan pada upaya pembangunan ekonomi. Kebijakan dalam bidang pendidikan dapat dilihat sebagai berikut:

Pertama, masuknya pendidikan Islam kedalam sistem pendidikan Nasional. Hal ini dimulai dengan lahirnya surat keputusan bersama 3 menteri (SKB 3 Menteri) yaitu menteri pendidikan, menteri agama dan menteri dalam negeri. Yang berisikan bahwa lulusan madrasah dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan umum dan sebaliknya, berhak mendapatkan bantuan sarana prasarana, biaya dan diakui ijazahnya.

Kedua, pembangunan madrasah dan pesantren, baik dalam bentuk fisik maupun non fisik. pada aspek fisik dilakukan pada peningkatan dan  perlengkapan infrastruktur, sarana prasarana, dan fasilitas seperti buku, perpustakaan dan perlengkapan laboratorium. Pada aspek nonfisik meliputi pembaruan bidang kelembagaan, manajemen pengelolaan, kurikulum, mutu sumber daya manusia, proses belajar mengajar dan lain sebagainya. Pembangunan pada bidang pendidikan ini tampak cukup berhasil dengan adanya lulusan madrasah yang dapat melanjutkan ke perguruan tinggi yang bergengsi baik di dalam maupun luar negeri.

Ketiga, pemberdayaan pendidikan islam nonformal. Pada zaman orde baru perkembangan pendidikan islam nonformal mengalami peningkatan yang sangat signifikan yang dipelopori oleh masyarakat. Yaitu dengan berkembangnya majelis taklim baik untuk kalangan masyarakat islam kelompok, masyarakat biasa, maupun bagi masyarakat menengah keatas.

Keempat, peningkatan atmosfer dan suasana praktik sosial keagamaan. Hal ini dapat dilihat pada lahirnya berbagai pranata ekonomi, sosial, budaya dan kesenian Islam. Antara lain lahirnya Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), bank Mu`amalat Indonesia (BMI), Harian Umum Republika, Undang-Undang Peradilan Agama, Bayt Al-Qur`an, dan lain sebagainya.

 

  1. Pendidikan Islam di Zaman Reformasi

Pada masa reformasi ini kebijakan-kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah menimbulkan keadaan pendidikan Islam yang secara umum lebih baik dari keadaan pendidikan pada masa pemerintahan orde lama. Keadaan pendidikan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

Pertama, kebijakan tentang pemantapan pendidikan Islam sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Hal ini terlihat pada penyempurnaan UU nomor 2 tahun 1989 menjadi UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa pesantren, ma`had Ali, Roudhatul Athfal (taman kanak-kanak), dan Majelis ta`lim  masuk dalam sistem pendidikan nasional. Serta Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2005 tentang guru dan dosen, standar nasional pendidikan, serta sertifikasi guru dan dosen, baik yang berada di bawah kementerian agama maupun kementerian pendidikan.

Kedua, kebijakan tentang Anggaran pendidikan Islam. Hal ini terlihat pada ditetapkannya anggaran pendidikan sebanyak 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang didalamnya termasuk gaji guru dan dosen, biaya operasional pendidikan, pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu, pengadaan buku gratis, pengadaan infrastruktur, sarana prasarana, media pembelajaran, peningkatan sumber daya manusia bagi lembaga yang bernaung di bawah kementerian Agama dan kementerian Pendidikan Nasional.

Ketiga, program wajib sembilan tahun, yakni setiap anak Indonesia wajib memiliki pendidikan minimal sampai dengan tamat sekolah lanjutan pertama, yakni SMP atau MTS.

Keempat, penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Nasional (SBN), Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).

Kelima, pengembangan  kurikulum berbasis kompetensi (KBK/tahun 2004) dan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP/tahun 2006).

Keenam, pengembangan pendekatan pembelajaran PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, komunikatif, efektif, dan menyenangkan). Dan masih banyak lagi perkembangan pendidikan Islam yang lainnya.[13]

  1. Perkembangan Sistem Pendidikan Islam di Indonesia

     Perkembangan studi Islam di Indonesia dapat digambarkan demikian. Bahwa lembaga/ sistem pendidikan Islam di Indonesia memiliki tahapan-tahapan seperti:

  1. Sistem langgar

Yang dimaksud pendidikan dengan sistem langgar adalah pendidikan yang dijalankan di langgar, surau, masjid, atau di rumah guru. Kurikulumnya pun bersifat elementer, yakni mempelajari abjad huruf arab. Dengan sistem ini dikelola oleh ‘alim dan mudin. Di tempat ini dilakukan pendidikan buat orang dewasa maupun anak-anak. Pengajian yang dilakukan untuk orang dewasa adalah penyampaian ajaran islam oleh mubaligh (al-ustadz, guru, kyai) kepada para jama’ah dalam bidang yang berkenaan dengan akidah, ibadah dan akhlak. Pengajaran sistem langgar dilakukan dengan dua cara; Pertama, dengan cara sorogan, yakni seorang murid berhadapan langsung dengan guru, dan bersifat perorangan. Kedua, adalah dengan cara halaqah, yakni guru dikelilingi oleh para murid untuk belajar bersama.[14]

  1. Sistem Pesantren

Umumnya kurikulum sistem pesantren adalah pada tingkat awal hanya untuk mengenal huruf abjad Arab. Kemudian pada tingkat selanjutnya diajarakan lagu-lagu qasidah; berjanji, tajwid, mengaji kitab Farukunan.

Pengajaran dengan sistem Pesantren ini dilakukan dengan dua cara:[15]

  1. Dengan cara sorogan, yakni seorang murid berhadapan secara langsung dengan guru, dan bersifat perorangan.
  2. Dengan cara halaqah, yakni guru dikelilingi oleh murid-murid.

Adapun system pendidikan dengan pesantren atau dapat diidentikan dengan huttab, dimana seorang kiyai mengajari santri dengan sarana masjid sebagai tempat pengajaran/pendidikan, dan didukung oleh pondok sebagai tempat tinggal santri. Hanya saja sorogan di pesantren biasanya dengan cara si santri yang membaca kitab, sementara kiyai mendengar, sekaligus mengoreksi kalau ada kesalahan.

  1. Sistem kelas.

Setelah sistem kerajaan kemudian mulai akhir abad ke 19, perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, mulai lahir sekolah model Belanda; sekolah Eropa, sekolah Vernahuler. Sekolah Eropa khusus bagi ningrat Belanda. Di samping itu ada sekolah pribumi yang mempunyai sistem yang sama dengan sekolah-sekolah Belanda tersebut, seperti sekolah taman siswa (adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta (Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar, dan Siswa berarti murid). Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah Taman Siswa ini diberi nama “National Onderwijs Institut Taman Siswa”, yang merupakan realisasi gagasan beliau bersama-sama dengan teman di paguyuban Sloso Kliwon. Sekolah Taman Siswa ini sekarang berpusat di balai Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur) di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, dan mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di seluruh Indonesia

Kemudian dasawarsa kedua abad ke 20 muncul madrasah dan sekolah-sekolah model Belanda oleh organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Jama’at al-Khair, dan lain-lain.

Kemudian pada tahun 1916, Nahdatul Ulama membuka madrasah salafiyah di Tebuireng, yang dalam kurikulumnya memasukkan pelajaran baca tulis huruf latin. Pada tahun 1923 ada empat sekolah Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta, dan di Jakarta berdiri sekolah HIS (Hollands Inlands School).

  1. Perguruan tinggi

Pada level perguruan tinggi dapat digambarkan, bahwa berdirinya perguruan tinggi Islam tidak dapat dilepaskan dari adanya keinginan umat Islam Indonesia untuk memiliki lembaga pendidikan tinggi Islam sejak colonial. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, pada bulan April 1945 ulama cendekianwan berkumpul. Dalam pertemuan itu dibentuklah panitia Perencana Sekolah Tinggi Islam yang diketauai oleh Drs. Moh. Hatta dengan anggota-anggota antara lain: K.H. Mas Mansur, K.H.A. Muzakkir, K.H R.F Kafrawi dan lain-lain. Setelah persiapan cukup, pada tanggal 8 Juli 1945 atau tanggal 27 Rajab 1364 H, bertepatan dengan hari Isra’ dan Mi’raj diadakan upacara pembukaan resmi Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta.

Setelah proklamasi dan ibu kota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta, STI juga hijrah ke kota tersebut dan berubah namanya menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) dengan empat fakultas, yaitu: Agama, Hukum, Ekonomi, dan Pendidikan. Fakultas Agama UII ini kemudian dinegerikan dan menjelma menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1950 dan pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Bersama Mentri Agama dan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No. K/I/14641 Tahun 1951 (Agama) dan No. 28665/Kab. Tahun 1951 (Pendidikan) tanggal 1-9-1951.

PTAIN membuka tiga jurusan, yaitu Jurusan Qadla, Tarbiyah dan Dakwah. Setelah PTAIN berjalan kira-kira sembilan tahun-waktu itu Ketua Fakultasnya adalah Prof. Muhtar Yahya dirasakan tidak mungkin mempertahankan hanya satu fakultas. Dengan alasan, karena demikian luasnya ilmu pengetahuan keagamaan Islam,. Maka pada tahun 1960 PTAIN dilebur dan digabungkan dengan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADAI) milik Departemen Agama yang didirikan di Jakarta dengan Penetapan Menteri Agama No. 1 Tahun 1957. Pengabungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dengan Peraturan Presiden RI Nomor 11 tahun 1960 dan Penetapan Menteri Agama No. 43 tahun 1960 tetang peyelengaraan IAIN. Maka IAIN al-Jami’ah al-Islamiyah al-Hukumiyah diresmikan berdirinya oleh Menteri Agama RI pada tanggal 2 Rabi’ul Awwal 1380 H bertepatan dengan tanggal 28 Agustus 1960 berdasarkan PP. No. 11 tahun 1960 tanggal 9 Mei 1960. IAIN di Yogyakarta dan ADIA di Jakarta.

Melihat perkembangan IAIN yang pesat yang ditandainya dengan banyaknya berdiri fakultas-fakultas cabang di daerah-daerah menunjukkan minat masuk IAIN. Kondisi ini melatarbelakangi lahirnya PP No. 27 Tahun 1963, yang memungkinkan didirikanya IAIN yang terpisah dari pusat. Dari sisi waktu berdirinya IAIN dapat digambarkan berikut:

  1. IAIN Ar-Raniry Banda Aceh tanggal 5 Oktober 1963.
  2. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tanggal 5 Desember 1963.
  3. IAIN Raden Fatah Palembang tanggal 22 Oktober 1964.
  4. IAIN Antasari Kalimantan Selatan tanggal 22 Nopember 1964.
  5. IAIN Sunan Ampel Surabaya tanggal 6 Juli 1965.
  6. IAIN Alauddin Ujung Pandang tanggal 28 Oktober 1965.
  7. IAIN Imam Bonjol Padang tanggal 21 Nopember 1966.
  8. IAIN Sultasn Taha Saefuddin Jambi tahun 1967.

Dengan adanya perguruan tinggi tersebut itu membuktikan bahwa studi islam di indonesia cukup baik dalam mengawal zaman yang semakin modern. Kesimpulannya baik dari segi ulama, pemerintah dan masyarakat yang ada di indonesia sebenarnya saling mendukung sehingga terciptalah studi studi islam yang dapat memfasilitasi umat islam dalam bersaing di dunia pengetahuan dengan umat umat yang lain[16].

 

 BAB III

PENUTUPAN

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan bahwa, dinamika studi Islam di Barat begitu pesat dimana ditandai dengan adanya pusat kajian keagamaan semisal, didirikannya The Development of Islamic Studies in Canada, Temple University, Leiden University dan Chicago University. Selain itu, ditandai dengan adanya kajian-kajian baru dalam studi Islam di Barat diantaranya pembaruan pemikiran Islam, dakwah Islam, pendidikan Islam, Politik Islam, dan Ekonomi Islam. Dalam mempelajari Islam, tentunya mereka mempunyai tujuan antara lain untuk menarik simpati umat Islam, melemahkan Islam dari dalam, menunjukkan superioritas Barat, memperjuangkan doktrin Barat, dan kepentingan negara-negara Barat lainnya.

Dinamika studi Islam di Timur dimulai dengan diawali pembelajaran Islam di masjid-masjid dan rumah, kemudian berkembang menjadi sekolah dan gedung, dan dilanjutkan dengan adanya pemisahan ilmu agama dan umum. Di dunia timur studi islam sudah sangat baik, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya beberapa kota yang menjadi pusat kajian islam di zamannya yaitu Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus dan Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi tertua di dunia muslim, yaitu Nizhamiyah di Baghdad, Al-Azhar di Kairo Mesir, Cordova dan Kairwan Amir Nizam Al-Mulk di Maroko.

Sedangkan dinamika studi Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi enam kondisi, yaitu kondisi pendidikan pada zaman kerajaan Islam, Belanda, Jepang, masa orde lama, orde baru dan zaman reformasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Darmawan, Andi, dkk. 2005. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga
  • 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
  • Hayyie, Al-kattani Abdul. 2009. Studi Islamic Countries. Jakarta: Gema Insani
  • Nata, Abudin. 2011.Studi Islam Komprehensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
  • Nata, Abudin 2011. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: kencana Prenada Media Group
  • Sahrodi, Jamail. 2008.Metodologi Studi Islam.Bandung: CV.Pustaka Setia
  • Samsul, Nizar.2009. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

 

 

[1] Prof.Dr.H. Abudin Nata.MA., Studi Islam Komprehensif, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011) hlm. 545

[2] Dr. Jamail Sahrodi, Metodologi Studi Islam,(Bandung: CV.Pustaka Setia, 2008) hlm.168

[3] Prof.Dr.H. Abudin Nata.MA., Studi Islam Komprehensif, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hlm. 551

[4] Prof.Dr.H. Abudin Nata.MA., Studi Islam Komprehensif, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hlm.552

[5] Andi darmawan, M.Ag dkk, Pengantar Studi Islam, (Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta , 2005), hlm. 37

[6] Nizar Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009) hlm. 158

[7] Al-kattani Abdul hayyie, Studi Islamic Countries, (Jakarta: Gema Insani, 2009), hlm. 25

[8] Studi Islam IAIN Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam, (Surabaya: Sunan Ampel Press, 2010), hal. 278

[9] Ibid., hal. 281

[10] Studi Islam IAIN Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam, (Surabaya: Sunan Ampel Press, 2010), hal. 295

[11] Prof.Dr.H. Abuddin Nata,MA.,Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: kencana Prenada Media Group, 2011) hlm. 235

 

[12] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 318

[13] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 352

[14] Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, MA, Sejarah Pertumbuhan Dan Pembaruan Pendidikan Islam Di Indonesia, hlm. 21

[15] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1995), hlm. 21

[16] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta: ACAdeMIA+TAZZAFA), hlm.65

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s