Bahasa Tabu

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Bahasa adalah alat komunikasi manusia dalam melakukan interaksi dengan sesamanya dan lingkungan sosialnya. Dalam berkomunikasi, manusia pada umumnya berinteraksi untuk membina kerjasama antar sesamanya dalam rangka membentuk, mengembangkan, dan mewariskan budaya dalam arti yang luas. Dalam pada itu adakalanya atau dapat dikatakan sering manusia berselisih atau berbeda pendapat antara satu dengan yang lainnya. Dari situasi dan kondisi ini manusia sebagai pemakai bahasa sering memanfaatkan bahasa atau berbagai kata-kata yang tidak sepatutnya diucapkan yang biasa dikenal dengan tabu. Larangan-larangan mengartikulasikan tanda bahasa tertentu ini memunculkan berbagai lambang atau sebutan. “Pantang” (Jawa), “Pamali” (Sunda), “Tabu” (Indonesia), dan “al Mahdhûrah/al Muharramah” (Arab) adalah beberapa sebutan yang bisa disebut sebagai bahasa tabu.

  1. B.     RUMUSAN MASALAH
    1. Apa yang dimaksud dengan Tabu?
    2. Apa hubungan fenomena Tabu dengan Masyarakat?
    3. Bagaimana hubungan Tabu dalam Bahasa?
  2. C.    TUJUAN
    1. Untuk mengetahui pengertian bahasa tabu
    2. Untuk mengetahui fenomena Tabu dalam Masyarakat
    3. Untuk mengetahui hubungan Tabu dalam Bahasa

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    PENGETIAN KATA TABU

Konsep tentang tabu yang dipakai dalam kata-kata tabu merupakan adopsi dari disiplin ilmu antropologi. Konsep tabu itu sendiri diadopsi para ahli barat dari budaya polenisean dan budaya-budaya nusantara termasuk ke dalam kelompok ini.

1.       Menurut Mead dalam Apte (1998:986) salah satu dari banyak arti konsep tabu dalam budaya-budaya polenisean adalah larangan apa saja yang tidak membawa hukuman-hukuman melebihi keinginan dan keadaan yang memalukan yang muncul dari pelanggaran batasan-batasan ketat adat.

2.      Matthews (1997:371) adalah kata-kata yang diketahui oleh penutur, tetapi dihindari dalam sebagian atau semua bentuk atau konteks dalam sebuah tuturan karena alasan agama, kepantasan, kesantunan, dan sebagainya.

Tabu (berasal dari bahasa Polinesia, taboo) adalah larangan sakral untuk tidak menyentuh, menyebut atau melihat obyek-obyek dan orang-orang tertentu, dan juga tidak melakukan tindakan-tindakan tertentu; jika larangan sakral ini dilanggar akan mendatangkan berbagai bentuk kerusakan. Lihat, Henry L. Tischler, Introduction to Sociology, (Orlanda-Florida: Holt, Rinehart and Winston, Inc., 1996), hal. 385.

  1.  Masyarakat dan Fenomena Tabu

Setiap masyarakat memiliki serangkaian nilai (values) dan norma (norms). Apa yang disebut nilai adalah preferensi masyarakat atas yang baik dan yang buruk; yang benar dan yang salah; yang dapat diinginkan dan yang tidak dapat diinginkan. Sebagai bagian dari budaya, nilai mempengaruhi perilaku, emosi, dan pemikiran.   Nilai penting norma pun beragam.[1]Norma yang terpenting adalah apa yang disebut sebagai “tabu”.

Pada masyarakat kuno, jika terjadi sebuah pelanggaran tabu maka diyakini akan mendatangkan sebuah hukuman atau sanksi dari alam ghaib. Alam ghaib ini akan menghukum pelaggar dan masyarakat disekitarnya. Sehingga muncullah sebuah “hukuman social” bagi seorang pelanggar. Dengan demikian, anggota masyarakat bisa menghindari pelanggaran terhadap tabu dan terhindar dari sanksi alam ghaib.

Dalam agama Islam, tabu tampaknya dapat dianalogikan dengan al muharramât, hal-hal atau tindakan-tindakan yang diharamkan. Menyantap daging babi, memakan darah, dan melakukan zina adalah beberapa contoh tabu dalam agama Islam yang bisa disebut. Melanggar tabu ini diyakini ummat Islam akan mendatangkan “balâ” atau “adzâb”, malapetaka dan siksaan dari Dzat Yang Maha Tidak Terlihat (bandingkan dengan kekuatan supernatural dalam supernaturalisme). Kedua akibat pelanggaran tabu ini tidak hanya akan dirasakan oleh pelanggar, melainkan juga oleh seluruh anggota masyarakat.

Dalam masyarakat modern, tabu dalam pengertian larangan untuk tidak melakukan sesuatu, tetap dikenal. Hanya saja, berbeda dengan tabu dalam masyarakat primitif yang bersifat magis-religius dan pelanggarannya selalu dihubungkan dengan sanksi supernatural, maka tabu dalam masyarakat modern bersifat profan dan pelanggarannya hanya dihubungkan dengan rusaknya “tatanan” yang diidealkan. Karena itu, sanksi atau hukuman sosiallah yang akan diterima oleh pelanggar tabu dalam masyarakat modern. Sanksi atau hukuman sosial tersebut dapat berupa denda, hukuman penjara atau pengasiangan/pemboikotan.

Tabu mencakup obyek, orang, dan tindakan. Subyek yang ditabukan sangat bervariasi, seperti seks, kematian, eksresi, fungsi-fungsi anggota tubuh, persoalan agama, dan politik. Obyek yang ditabukan pun beragam antara lain mertua, perlombaan adu binatang, penggunaan jari tangan kiri (yang menunjukkan sinister/ancaman) dan sebagainya.

  1.  Tabu dalam Bahasa

Apabila tabu seperti disebutkan di atas dapat mencakup benda (object), orang (person), dan tindakan (act), maka ke dalam jenis terakhirlah tabu dalam bahasa dapat digolongkan. Dengan demikian, bahasa tabu/tabu bahasa berarti larangan “melakukan tindakan” menyebut secara langsung bahasa tentang sesuatu. Bila ada tindakan penyebutan bahasa tentang sesuatu ini, maka akan berlaku sesuatu yang kurang menyenangkan terhadap penutur.

Larangan penyebutan ini umumnya berlaku pada keadaan tertentu, seperti ketika berburu di hutan, orang di daerah berbahasa melayu tidak boleh mengucapkan kata “harimau”, “babi hutan”, dan “peluru”. Namun, larangan penyebutan itu bisa saja berlaku dalam situasi biasa, seperti orang di daerah Priangan Selatan/Pakidulan dilarang menyebut kata “maung/harimau” karena dipercaya sewaktu-waktu bisa hadir.

Sebagai bagian dari bahasa dalam pengertian meminjam istilah Saussure langage, yaitu sistem lambang bunyi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal di antara sesamanya,[2] Bahasa Arab pun terikat dengan dua hal. Pertama, ikatan-ikatan yang berkaitan struktur bahasa itu sendiri (linguistic constraints), dengan empat tatarannya: tataran fonologis, tataran morfologis, tataran sintaksis, dan tataran semantik. Kedua, ikatan yang berhubungan dengan penggunaan verbal atau praktis bahasa. Karena lebih bersifat sosial dan eksternal bahasa, ikatan ini disebut dengan ikatan-ikatan sosial (social constraints).[3]

Dari sinilah, kemudian muncul konsep penghalusan (juga pengkasaran) bahasa. Konsep pertama disebut eufemisme, yaitu menggunakan ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, untuk menggantikan ungkapan yang dirasakan menghina atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya, pelacur diganti dengan pekerja seks komersialpemecatan diganti dengan pemutusan hubungan kerjababu diganti dengan pembantu rumah tangga (dan kini menjadi pramuwisma); gelandangan diganti dengan tunawismakenaikan harga diganti dengan penyesuaian tarif; dan penjara diganti dengan lembaga pemasyarakatan. Konsep kedua disebut disfemia[4] Konsep ini dapat diartikan menggunakan kata atau ungkapan yang dirasa lebih tidak enak didengar untuk mencapai efek tuturan yang jelas. Misalnya, untuk nasib akhir penjahat yang tertembak oleh aparat keamanan, akan digunakan “mati” atau “tewas”, bukan “meninggal dunia” atau “wafat”. Perkataan penjahat itu wafat secara sosial dianggap tabu, sama halnya dengan perkataan ulama besar itu mati.

Di samping melalui penghalusan (juga pengkasaran) dengan memilih salah satu dari repertoir kosa kata dalam bahasa yang sama, kata-kata yang dianggap tabu juga dapat dihindari dengan cara meminjam kata dari bahasa asing memiliki acuan/konsep yang kurang lebih sama dengan acuan/konsep kata yang ditabukan tersebut.[5] Bagi kelas sosial terpelajar dalam masyarakat Indonesia yang mengenal bahasa Inggris, misalnya, penggunaan kata bersetubuhhubungan intim, dan berhubungan badan tetap dirasakan kurang halus. Daripada menggunakan kata-kata tersebut, mereka akan lebih memilih kata bahasa Inggris “make love” atau “intercourse”.

Berdasarkan motivasi psikologis, kata-kata tabu muncul minimal karena tiga hal, yakni adanya sesuatu yang menakutkan (taboo of fear), sesuatu yang membuat perasaan tidak enak (taboo of delicacy), dan sesuatu yang tidak santun dan tidak pantas (taboo of propriety).

1.      Taboo of Fear

Segala sesuatu yang mendatangkan kekuatan yang menakutkan dan dipercaya dapat membayakan kehidupan termasuk dalam kategori tabu jenis ini. Demikian juga halnya dengan pengungkapan secara langsung nama-nama Tuhan dan makhluk halus tergolong taboo of fear.

Sebagai contoh orang Yahudi dilarang menyebut nama Tuhan mereka secara langsung. Untuk itu mereka menggunakan kata lain yang sejajar maknanya dengan kata ‘master‘ dalam bahasa Inggris. Di Inggris dan Prancis secara berturut-turut digunakan kata the Lord dan Seigneur sebagai pengganti kata Tuhan. Nama-nama setan dalam bahasa Prancis pun telah diganti dengan eufemismenya, termasuk juga ungkapan l’Autre ‘the other one’.

Di Indonesia, masyarakat Pantai Selatan pulau Jawa memandang tabu terhadap siapa saja yang melancong atau berekreasi di pantai tersebut dengan mengenakan pakaian yang berwarna merah. Pertabuan ini disebabkan karena mereka percaya bahwa makhluk ghaib Penguasa Laut Selatan yakni Nyi Roro Kidul, yang dikenal dengan Ratu Pantai Selatan tidak suka/marah dengan pengunjung yang mengenakan baju merah dan tentunya dipercaya akan ada dampak buruk yang akan diterima oleh si pelanggarnya. Contoh kasus semacam ini tentu banyak dijumpai khususnya di Indonesia sebagai negara yang multi etnik, agama, adat-istiadat dan kebudayaan.

2.      Taboo of Delicacy

Usaha manusia untuk menghindari penunjukan langsung kepada hal-hal yang tidak mengenakkan, seperti berbagai jenis penyakit dan kematian tergolong pada jenis tabu yang kedua ini.

Pengungkapan jenis penyakit yang mendatangkan malu dan aib seseorang tentunya akan tidak mengenakkan untuk didengar, seperti ayankudisborokkanker. Olehnya itu sebaiknya nama-nama penyakit itu diganti dengan bentuk eufemistik seperti epilepsiscabiesabses dan CA untuk mengganti kata kanker. Beberapa nama penyakit yang merupakan cacat bawaan seperti butatulibisu, dan gila secara berturut-turut dapat diganti dengan kata tunanetra, tunarungutunawicara, dan tunagrahita. Dalam bahasa Arab tabu tentang tema kematian. Orang-orang Arab di banyak daerah cenderung menghindari penggunaan kataمات (ia telah mati). Mereka menggantinya dengan kata-kata lain yang tampak lebih enak didengar dan nyaman dirasakan, seperti انتقل الى جوار ربه ، توفاه الله ، أسلم الروح ، قضى نحبه ، رحمه الله [6]

3.      Taboo of Propriety

Tabu jenis ini berkaitan dengan seks, bagian-bagian tubuh tertentu dan fungsinya, serta beberapa kata makian yang semuanya tidak pantas atau tidak santun untuk diungkapkan. Dalam bahasa Indonesia, kata pelacur misalnya, kata seperti ini kurang nyaman didengar telinga. Maka dari itu kata pelacur bisa dieufemismekan menjadi kata tuna wisma.

Sedangkan dalam bahasa arab, bahasa Arab tabu yang berkaitan dengan organ-organ genital dan aktivitas seksual. Dalam hal ini, orang Arab tidak menggunakan kata-kata asli yang menjadi tandanya, tetapi menggantinya dengan kata-kata lain yang dapat diterima dan terasa nyaman didengar khalayak umum. Fenomena kinayah dalam bahasa Arab adalah bukti penggantian kata-kata yang dianggap tidak pantas/sopan ini.[7] Dalam al Qur’an, misalnya, didapatkan banyak bentuk kinayah untuk menyatakan “hubungan seksual”, yaitu digunakan kata al harts (ladang), al dukhûl (masuk/campur), al mulâmasah (sentuh), al rafats (bersetubuh), al mubâsyarah (kontak langsung), al ifdlâ’ (mendatangi), dan al nikâh (nikah) sebagaimana terlihat dari ayat-ayat al Qur’an berikut:

–         نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم انى شئـتم (البقرة/223 )

“Istri-istrimu adalah (seperti) ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu bagaimana saja kamu kehendaki”

–         من نسائـكم التي دخـلتم بهن (النساء / 23 )

“Dari istri-istrimu yang telah kamu masuki/campuri

–         اولـمستم النساء (المائدة / 6 )

“Atau kamu menyentuh perempuan”

–         احـل لكم ليلة الصـيام الرفـث الي نسائكم (البقرة / 187 )

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bersetubuh dengan istri-istri kamu”

–         فالئن باشـروهن …. ولا تباـشروهن وانتم عاكـفون في المساجد (البقرة / 187 )

“Maka sekarang kontaklah langsung dengan mereka … janganlah kamu kontak langsung dengan mereka di saat kamu beri’tikaf dalam masjid”

–         وقد افـضى بعـضكم الى بعـض (النساء / 21 )

“Padahal sebagian kamu telah mendatangi sebagian yang lain”

–         فانـكحوهن باذن اهـلهن (النساء /25)

“Karena itu, nikahilah mereka dengan seizin tuan mereka”

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Tabu adalah larangan sakral untuk tidak menyentuh, menyebut atau melihat obyek-obyek dan orang-orang tertentu, dan juga tidak melakukan tindakan-tindakan tertentu; jika larangan sakral ini dilanggar akan mendatangkan berbagai bentuk kerusakan.

Hubungan Tabu dalam masyarakat memiliki serangkaian nilai (values) dan norma (norms). Pada masyarakat kuno, jika terjadi sebuah pelanggaran tabu maka diyakini akan mendatangkan sebuah hukuman atau sanksi dari alam ghaib. Dalam agama Islam, tabu tampaknya dapat dianalogikan dengan al muharramât, hal-hal atau tindakan-tindakan yang diharamkan. Dalam masyarakat modern, tabu dalam pengertian larangan untuk tidak melakukan sesuatu, tetap dikenal.

Tabu dalam bahasa ada 3 yaitu :

  1.  Taboo of Fear : Segala sesuatu yang mendatangkan kekuatan yang menakutkan dan dipercaya dapat membayakan kehidupan
  2.  Tabu of Delicacy : Usaha manusia untuk menghindari penunjukan langsung kepada hal-hal yang tidak mengenakkan
  3. Taboo of Propriety :   Tabu yang berkaitan dengan seks, bagian-bagian tubuh tertentu dan fungsinya, serta beberapa kata makian yang semuanya tidak pantas atau tidak santun untuk diungkapkan

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul, Linguistik Umum, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003),

Sumarsono & Paina Partana, Sosiolinguistik, (Yogyakarta: Sabda-Pustaka Pelajar, 2004).

Hadson, ‘Ilm al Lughah al Ijtimâ’iy, terjem. Oleh Mahmûd ‘Iyâd, (Kairo: ‘Âlam al Kutub, 1990), cet. II.

Abdul Chaer & Leonie Agustina, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004).

Curry, Tim, dkk, Sociology for the Twenty-First Century, (New Jersey: Prentice-Hall. Inc., 1997).

Ûdah, Khalîl Abu ‘Ûdah,  al Tathawwur al Dalâliy Bain Lughah al Syi’r al Jâhiliy  wa Lughah al Qur’ân al Karîm, (Yordania: al Manâr, 1985).

al Sayyid, Shabry Ibrâhîm, ‘Ilm al Lughah al Ijtima’iy: Mafhûmuh wa Qadlâyâh, (Iskandariyah: Dâr al Ma’rifah al Jâmi’iyyah, 1995).

al Jârim, Ali & Mushthofa Amîn, al Balâghah al Wâdlihah, (Kairo: Dâr al Ma’ârif, 1977).


[1] Tim Curry dkk, Sociology for the Twenty-First Century, (New Jersey: Prentice-Hall. Inc., 1997), hal. 33-34.

[2] Abdul Chaer & Leonie Agustina, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), cet. II, hal. 30.

[3] Hadson, ‘Ilm al Lughah al Ijtimâ’iy, terjem. Oleh Mahmûd ‘Iyâd, (Kairo: ‘Âlam al Kutub, 1990), cet. II, hal. 168

[4] Abdul Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), cet. II, hal. 314-315.

[5]‘Ûdah Khalîl Abu ‘Ûdah,  al Tathawwur al Dalâliy Bain Lughah al Syi’r al Jâhiliy  wa Lughah al Qur’ân al Karîm, (Yordania: al Manâr, 1985), hal. 55.

[6] Shabry Ibrâhîm al Sayyid, Op. Cit., hal. 173.

[7] Ali al Jârim & Mushthofa Amîn, al Balâghah al Wâdlihah, (Kairo: Dâr al Ma’ârif, 1977), hal. 125 dan 132.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s