Pendidikan Islam di Nusantara pada Zaman Wali Songo

  1. Konstruksi Sosial ( Konvergensi)

– Da’wah-

Terjadi sekitar abad ke-15 dan masih dalam pengaruh kerajaan Majapahit. Ketika itu masyarakat masih beragama Hindu-Budha dan animisme (pemuja roh) dan juga terjadi stratifikasi sosial (adanya kasta), sehingga saat itu terjadilah peradaban Hindu-Budha di Pulau Jawa.

Kemudian Islam datang dari jalur para Pedagang di pesisir pantai Pulau Jawa. Sebenarnya para pedagang Islam sudah datang sejak abad ke-11 namun pengaruhnya baru terasa karena akibat mundurnya kekuatan maritim Majapahit. Adanya perang Paregreg, kemudian kemunduran armada laut Majapahit yang mengakibatkan edagang non-Muslim digantikan oleh Pedagang Muslim yang menguasai perairan Jawa. Bandar-bandar di utara Pulau Jawa berkembang menjadi tempat penimbunan beras yg khusus disediakan bagi keperluan para pedagang. Tidak terlepas dari pola tradisional, yakni para bangsawan setempat dan pegawai-pegawainya yg berwenang membagikan beras ke rakyat jelata menjadi korupsi, nah saat itulah pedagang Muslim kelas menengah mendadak menjadi tumpuan harapan bagi rakyat miskin yg tertindas.

(individu/Humanis) Syekh Maulana Malik Ibrahim pertama kali berda’wah adalah dengan berdagang caranya membuka warung yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah, juga menjadi tabib gratis.

Kemudian setelah Islam tersebar, terjadi perubahan pada pola sistem masyarakat Indonesia, jadi terdapat pembaharuan. Yang sebelumnya ada sistem kasta menjadi dihapuskan, sehingga tidak ada perbedaan antara masyarakat yang satu dengan yang lain.

Sasaran da’wah pada zaman walisongo adalah masyarakat luas, mulai dari keluarga, masyarakat. Kemudian tokoh utama seperti Raja kerajaan pada masa itu.

2. Kebijakan Pendidikan (Teori Konvergensi)

Motif kebijakan pendidikan adalah teori konvergensi atau gabungan antara teori ideologis dan kepentingan. Kenapa?

(Teori Ideologi) Wali songo menanamkan akidah Islam dengan menggunakan sarana mitologi dan adat istiadat ataupun simbol-simbol masyarakat yang saat itu masih beragama Hindu-Budha.

–          Terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan 8 jalan Budha.

–          Sunan Kudus menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid (setelah masyarakat Hindu tertarik maka Beliau juga memberitahukan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat Surah Al-Baqarah)

–          Mitologi-mitologi atau kisah dewa-dewa kemudian disisikan akidah Islam yang mengatakan bahwa dewa-dewa asal-usulnya adalah keturunan Nabi Adam.

–          Konsep Mo-Limo yang sebelumnya versi Hindu-Budha yang isinya adalah bahwa seseorang untuk mendapat kesaktian harus Mo-Limo: mamsha= daging, matsya= ikan, madya= minuman keras, maithuna= bersetubuh dan mudra= bersemedi, oleh Sunan Ampel diganti menjadi : orang Islam itu harus Mo-Limo: Moh Madat (makan candu), Moh main (judi), Moh Maling, Moh Minum dan Moh Madon)

–          Berda’wah dengan membuat gending-gending Jawa yang berisikan ajaran Islam (sinom dan kinanti) dan wayang karena saat itu gending dan wayang sangat disukai masyarakat

Sehingga saat itu terjadi perang ideologi para Ulama yang semakin jelas mengarah pada perombakan setting budaya dan tradisi keagamaan yang ada. Singkatnya perombakan tradisi meliputi 3 hal:

  1. Kebiasaan Semedi sebagai puji mengheningkan cipta, diusahakan berubah menjadi shalat lima waktu.
  2. Kebiasaan sesaji diusahakan menjadi pemberian shadaqah.
  3. Perilaku meniru dewa dalam upacara perkawinan dengan menanam pohon klepu, Dewa Daru, menabuh gamelan Okananta, nyanyian wanita yang mengelu-elukan kehadiran dewa dalam gerak tari tayuban diusahakan dihilangkan dengan jalan kebijaksanaan sehingga tidak menyinggung perasaan hati rakyat banyak.

(Teori Kepentingan) Metode da’wah wali songo juga melalui sarana dan prasarana yang berkait dengan masalah perekonomian rakyat. Jadi dipikirkan masalah halal-haram, masak-memasak sehingga untuk efisiensi dalam perekonomian, Beliau berijtihad tentang kesempurnaan alat-alat pertanian, perabot dapur, barang pecah-belah sehingga saat itu Sunan Kalijaga menyumbangkan karya seperti filsafat bajak dan cangkul. Sehingga dengan membuat jasa dalam bidang tersebut diharap dapat menarik perhatian masyarakat. Ada juga Sunan Drajat dengan pemikiran tentang kesempurnaan alat angkutan (transportasi) dan bangun perumahan. Sunan Gunung Jati menyumbangkan pemikiran tentang perpindahan penduduk (migrasi).

Selain itu dalam mengembangkan da’wah islamiyah para wali menggunakan sarana politik. Dalam bidang politik kenegaraan Sunan Giri tampil sebagai ahli negara para Walisongo. Beliau pula yang menyusun peraturan-peraturan ketataprajaan dan pedoman-pedoman tatacara keraton. Sunan Kudus membantu Seliau dalam perundang-undangan, pengadilan dan mahkamah.

Walisongo juga berda’wah melalui jalur keluarga/perkawinan. Oleh Sunan Ampel dalam rangka memperluas da’wah Islam salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menjalin hubungan dengan para tokoh Islam muda yang sebagian besar adalah murid Beliau sendiri. Jadi kan kalau atasannya sudah beragama Islam, maka bawahannya akan mudah masuk ke agama Islam. Serta jikalau putra-putri Sunan Ampel sudah menikah dengan tokoh terpandang setempat kan nantinya bisa menempati posisi penting di Pulau Jawa.

3. Institusional Pendidikan

Da’wah – Masjid/Langgar – Pesantren – Halaqah

Pada masa Syekh Maulana Malik Ibrahim sudah merintis sistem PonPes di Leran, namun yang dianggap paling berhasil dalam mendidik dan pengembangan PonPes adalah Sunan Ampel.

Ponpes sendiri sebenarnya pada saat itu adalah diadaptasi dari Pendidikan di Biara dan Asrama para biksu dan Pendeta(Patapan). Kata sembahyang (pengaruh Hindu-Budha). Ada yang berpendapat bahwa PonPes merupakan lanjutan dari suatu lembaga para biksu atau pendeta menuntut ilmu dinamakan Mandala(Mandala tidak mengenal asrama). Pada saat itu Ponpes sama seperti halnya Mandala sudah disebut sebagai suatu lembaga karena :

  •  Pengajar (Guru)
  •   Tempat di pelosok yang jauh dari keramaian  dan berada di desa yang telah memperoleh hak istimewa dari penguasa.
  • Evaluasi/Ijazah berupa pengakuan dari Sang Guru, kan biasanya halaqah itu duduknya dalam bentuk lingkaran. Murid yang lebih tinggi pengetahuannya akan duduk pada posisi yang lebih dekat dengan Guru/Kyai. Kemudian jika sang Murid atau Santri sudah dianggap cukup ilmunya maka diperbolehkan untuk mengembara menimba ilmu di tempat lain atau pergi ke suatu tempat untuk menyebarkan agama Islam.
  • Fakta : Pesantren Ampel Denta dan Giri, Dalam cerita Babad Tanah Jawi.
  • Gaji : meskipun tidak pernah dipungut biaya, siapapun bebas belajar di PonPes yang didirikan Walisongo, bahkan Walisongo sendiri kan tujuan utamanya mengislamkan pulau Jawa sehingga berda’wah dengan ikhlash dan rela berkorban. Namun melihat situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu maka bisa jadi gaji yang diperoleh adalah hasil tanaman atau hadiah perdagangan.
  • Kurikulum: undocumented, kajian keislaman (keagamaan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s